Thursday, January 17, 2013

Galau di Ujong Pancu


Jadi ceritanya udah 3 hari ini saya galau... ketimbang berdiam diri dalam semrawutnya pikiran,, seperti pulang langsung tidur dan bangun besok paginya, sy, putuskan sore ini mencari sunset di ulele,,, di langit sih udah ada gejala2 mau mendung gitu,,, tapi ya namanya juga tekad,, ga harapan motret sunset akhirnya saya belokkan mio menuju ke arah ujong pancu. Jalanan sepi, sesepi hatiku (cie..uhuk... hukk..hueekk)...sempat ketir juga soalnya sudah jam 5 lewat.. tapi mana boleh pulang – sebelum capture something... rugi bensin donk ...

Well... ujong pancu sudah terlihat di depan mata.. i dont know why tiba2 sy. berbelok ke jalan setapak yang masih bisa dilalui motor... (mungkin sy. berharap bisa mendapatkan sisi lain dari ujong pancu). Eh, ternyata di ujung jalan ini... ada lesehan gitu yang ditempelkan pada pohon – sy. gak tau namanya – versi nenas raksasa :D ...  
wah, sy. parkir motor langsung duduk disitu menikmati angin laut ...
dengan view  pohon kering di tengah lautan yang luas, perahu2 tua tak terurus + pohon cantik di sisi lainnya ditambah cuaca mendung.... hmm,, cucokkk lah ... (kalau lagi galau suka melow gak jelas..hehe, maaf ya ..)

Setelah lelah mengambil beberapa gambar,,, sy. duduk kembali di lesehan... pandangan sy. jauh ke depan... ke tempat pohon kering itu masih ringkih berdiri... ingin rasanya mendekat, tapi apa mungkin .. waktu sudah jam 6 sore... lagian hembusan angin lautnya seperti berbisik,,, serem ..  tapi, tiba-tiba sy. melihat ada sosok laki-laki di dekat pohon kering tersebut. Dia jongkok-jongkok seperti sedang menanam sesuatu,,, ngapain sih..? nanam bakau..? jam segini ...? well.. babibu,,, tidak ada yang bisa menjawab rasa penasaran jika tidak dicari tau ..

Dan inilah saya... masi dengan sepatu kantor... sudah  mulai berjalan di lumpur2 pantai yang air lautnya sedang surut. 

“Dan, tolong..tolong... sy. tenggelam....”

“ oh.. rupanya bukan jenis lumpur penghisap “ .. hihihi,,, kebayang kan, di air aja ga bisa berenang apalagi di lumpur :D.  

“ Dan, hey.... sy. melihat sand wave yang luas.... “ sy. pernah dan sangat kagum melihat karya foto salah seorang fotografer  – sy. ga ingat siapa – di salah satu pameran foto di aceh, fotonya sederhana saja cuma berupa gelombang pasir tapi sangat bercerita dan artistik ... 

“ hm, nyontek ahhh ... capture juga ^_^ “, tapi eksekusinya gatot ... fotografer ntu pasti punya skill dan alat yang canggih .. hiiii

Akhirnya, setelah bersusah payah mengambil sepatu yang udah nyangkut di lumpur... dengan ditenteng sekalian kamera... sy. menghampiri bapak tu.. 

“ keubut pak..? “
“mita kreung,,, droen keubut keunoe  ka mugreb .. ?”
“ owhh.. hehehe...” * pasang muka melempeng cengengesan.. 

Setelah bercakap-cakap sebentar, sy. meninggal kan dia menuju air-air tergenang disitu untuk bebersih sedikit... dan.. helloww..  ? bapak itu sudah tidak ada ... kiri kanan ga nampak... menghilang begitu cepat di tempat seluas ini...lha, sy. belum juga ambil foto dia lagi mungut kerang... pasti bisa dapat foto HI yang keren.. udah ah, masa bodo.. pohon kering yg di khayalan tadi udah di depan mata,, dikelilingi pohon – pohon bangka yang sepertinya malas gedek... terlihat cantik ... sy. capture ini saja. Pajan lom .. ? :D


Azan magrib terdengar ,,,, buru2 sy. mencari motor.. dan dengan gas pool sy. mampir di mesjid Lambadeuk utk bersih2 dan sholat... menghadapi tatapan – who’s this girl ? - dari 3 orang ibu-ibu yang sholat di mesjid,,, sy. langsung berujar :

“ lon ureung aceh sit hai mak ... singoh2 lon balek keunoe lom,,jadi singoh2 awak droen kayem kalon lon ...” heheh
Mak2 disinan “ ho woe ..? , keujeut woe sidroe ..?”
“ oh hana pu pu, bak jalan rame ureung ,,,,”

Dan, ternyata sy. lupa kalau sy. harus melewati jalan yang tidak ada rumah penduduknya sama sekali.. kiri laut, kanan bukit...
Dan, bremmmmmmmmm  ................ mmmmmmmmmmmmmmmm ........ al-faatihah, an-nass, ....

Note : waktu tempuh ke Ujong pancu ini kira2 25 menit dari pusat kota Banda Aceh ( 25-30 km/jam). Jangan tanya berapa km nya... karena sy. ga pernah bisa itung2 masalah jarak ini... sama seperti susahnya membaca peta :D.

Friday, January 11, 2013

Bahasa Aceh vs. Bahasa Indonesia


Ntah kenapa tiba-tiba saya ingin menuliskan hal ini. Mungkin melihat fenomena semakin sedikit perempuan di Aceh yang menggunakan bahasa ibu ini sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. 
( Trus, masalah buat gue ..?  tuing … :&)

Hm,, bahas sejarah dikit… saya terlahir di Aceh besar…  ibu, ayah, sama-sama aceh besar… tetangga-tetangga saya pun ya seperti kebanyakan orang-orang di kampung yang satu tumpuk itu tinggalnya sodaraan semua… sehingga otomatis mereka adalah orang aceh besar juga.  Dan, gak heran donk kalau saya kecil ya hanya mengenal bahasa aceh besar. Hehe.  Dan, parahnya saya SDnya juga di SD Lamreung --- semua muridnya berbahasa Aceh Besar. – rasanya waktu itu jika ada yang berbahasa Indonesia sudah sangat “wah”. Dan hanya guru kesenian lah satu-satu nya yang selalu berbahasa Indonesia. Dengan pakaian yang sedikit glamor pada masa itu dan digosipkan punya affair dengan guru lainnya, maka stigma –wah- semakin melekat pada bahasa Indonesia, pikir kami.
                  
Eniwei… dengan malu-malu saya harus mengakui kalau bahasa aceh besar itu agak  sedikit –bakai-.. terlalu banyak intonasi dengan lafal yang tidak ada abjadnya dalam bahasa Indonesia.  Tapi ternyata di aceh besar sendiri dialeknya bisa beda-beda, dan sampai usia saya sekarang, ga ada dialek aceh besar yang saya temui yang enak didengar … hihi (durhaka). Ayah saya dari Sibreh … sedang ibu saya dari Lueng Ie, tempat saya tinggal sekarang. Saya kecil shock + pusing pulang kampung (Sibreh) dengar orang-orang bercakap.  Gilakk,,, banyak sengau nya (“ng” dan “ny” gitu)… nam jadi nang.. lucunya, abang sy. yang biasa dipanggil bg nen disana jadi dipanggil baneng…hahaha. Tapi, syukran alhamdulillah ayah saya sejak remaja tinggal di kota sehingga tidak membawa virus “ng” ini ke rumah… ciyus lhooo, ,,, bahasa aceh ayah saya sangat bagus dan intelek :D.

Well… balik lagi ke tempo dulu.. akhirnya saya tamat dari SD Lamreung dan tibalah melanjutkan pendidikan ke SMP yang ada di kota (Darussalam). Disitulah kami ber-4 alumni SD Lamreung mulai familiar dengan bahasa Indonesia. Di awal-awal sebenarnya sangat susah… kata temanku yang terkenal preman di kampung, dia terpaksa diam waktu berantem sama temannya karena keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia. Hahaha… derita bangetd tuh. Tapi di smp ini, bahasa Aceh masih sering terdengar.

To be continued ...


Thursday, January 10, 2013

Mengenal Thalesemia

Si pembunuh yang belum menjadi perhatian

Muka pucat, perut buncit dan kulit seperti terbakar menjadi pemandangan biasa setiap anak yang sedang menjalani transfusi darah di Sentra Thalesemia. Sentra Thalesemia adalah sebuah ruang khusus di gedung lama Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh, disediakan khusus menangani setiap penderita thalesemia.

Thalesemia, penyakit yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Ingatan saya kembali pada hari dimana secara kebetulan saya berbincang-bincang dengan kak Nunu Husein, pendiri DUA (Darah Untuk Aceh), suatu komunitas kemanusian yang membantu mencari ketersediaan stok darah bagi yang membutuhkan, saya jadi mengetahui bahwa ada sekitar 158 anak Aceh yang sudah terdeteksi menderita thalesemia. Secara naluriah, saya kaget begitu mengetahui penyakit ini harus menjalani transfusi seumur hidupnya dan memiliki harapan hidup yang singkat. :(

Apa itu thalesemia ?
Thalesemia merupakan salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan yang diturunkan secara autosomal dari orang tua yang memiliki gen tersebut. Paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia.  6-10 dari 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Kalau sepasang dari mereka menikah, kemungkinan untuk mempunyai anak penderita thalesemia berat adalah 25%, 50% menjadi pembawa sifat (carrier) dan 25% kemungkinan bebas. (sumber : wikipedia).

Kelainan itu tidak hanya menyebabkan kekurangan sel darah merah. Cepat rusaknya sel darah merah memunculkan komplikasi, seperti pembesaran hati dan limpa karena organ bekerja lebih keras memproduksi sel darah merah baru. Zat besi yang menumpuk juga harus dikeluarkan. Orang dengan thalesemia memerlukan perawatan yang rutin, seperti melakukan transfusi darah teratur untuk menjaga kadar Hb di dalam tubuhnya kira-kira     12 gr/dl dan menjalani pemeriksaan serum untuk memantau kadar zat besi di dalam tubuh. Penderita thalesemia juga harus menghindari makanan yang diasinkan atau diasamkan dan produk fermentasi yang dapat meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh.  

Karena penyakit ini belum ada obatnya, pencegahan dini menjadi hal yang lebih penting dibandingkan pengobatan. Setiap pasangan yang akan menikah sebaiknya memeriksakan darah untuk mengetahui statusnya sebagai pembawa thalesemia. Jika pernikahan tersebut tetap dilanjutkan, setidaknya mereka mengetahui dan mengkonsultasikan resiko tersebut. Di Aceh ada kasus dimana terjadi saling menyalahi antara suami-istri penderita, kebetulan istri tersebut sudah pernah menikah dan memiliki anak normal dari pernikahan sebelumnya.

Apa yang bisa kita lakukan ?

Karena kebutuhan darah yang rutin, kendala yang dihadapi oleh penderita adalah masalah ketersediaan darah. Jika darah tidak tersedia, penderita kemungkinan akan meninggal. Dari 500 kantong kebutuhan darah untuk penderita thalesemia di Aceh baru 300 kantong yang terpenuhi (Kompas-2012).
Jadi, cek golongan darahmu teman, cek rhesus darahmu dan jadilah pendonor tetap (kakak asuh) bagi penderita thalesemia. DUA lewat programnya #10for1thalesemia, mencari 10 orang pendonor tetap untuk 1 orang penderita thalesemia. Hal ini dilakukan agar penderita akan terus menerima darah dari orang yang sama dan cocok, sehingga akan meminimalisasi kecendrungan munculnya gangguan lain.

yukkk.. kita dukung program DUA, kita bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan