Friday, January 11, 2013

Bahasa Aceh vs. Bahasa Indonesia


Ntah kenapa tiba-tiba saya ingin menuliskan hal ini. Mungkin melihat fenomena semakin sedikit perempuan di Aceh yang menggunakan bahasa ibu ini sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. 
( Trus, masalah buat gue ..?  tuing … :&)

Hm,, bahas sejarah dikit… saya terlahir di Aceh besar…  ibu, ayah, sama-sama aceh besar… tetangga-tetangga saya pun ya seperti kebanyakan orang-orang di kampung yang satu tumpuk itu tinggalnya sodaraan semua… sehingga otomatis mereka adalah orang aceh besar juga.  Dan, gak heran donk kalau saya kecil ya hanya mengenal bahasa aceh besar. Hehe.  Dan, parahnya saya SDnya juga di SD Lamreung --- semua muridnya berbahasa Aceh Besar. – rasanya waktu itu jika ada yang berbahasa Indonesia sudah sangat “wah”. Dan hanya guru kesenian lah satu-satu nya yang selalu berbahasa Indonesia. Dengan pakaian yang sedikit glamor pada masa itu dan digosipkan punya affair dengan guru lainnya, maka stigma –wah- semakin melekat pada bahasa Indonesia, pikir kami.
                  
Eniwei… dengan malu-malu saya harus mengakui kalau bahasa aceh besar itu agak  sedikit –bakai-.. terlalu banyak intonasi dengan lafal yang tidak ada abjadnya dalam bahasa Indonesia.  Tapi ternyata di aceh besar sendiri dialeknya bisa beda-beda, dan sampai usia saya sekarang, ga ada dialek aceh besar yang saya temui yang enak didengar … hihi (durhaka). Ayah saya dari Sibreh … sedang ibu saya dari Lueng Ie, tempat saya tinggal sekarang. Saya kecil shock + pusing pulang kampung (Sibreh) dengar orang-orang bercakap.  Gilakk,,, banyak sengau nya (“ng” dan “ny” gitu)… nam jadi nang.. lucunya, abang sy. yang biasa dipanggil bg nen disana jadi dipanggil baneng…hahaha. Tapi, syukran alhamdulillah ayah saya sejak remaja tinggal di kota sehingga tidak membawa virus “ng” ini ke rumah… ciyus lhooo, ,,, bahasa aceh ayah saya sangat bagus dan intelek :D.

Well… balik lagi ke tempo dulu.. akhirnya saya tamat dari SD Lamreung dan tibalah melanjutkan pendidikan ke SMP yang ada di kota (Darussalam). Disitulah kami ber-4 alumni SD Lamreung mulai familiar dengan bahasa Indonesia. Di awal-awal sebenarnya sangat susah… kata temanku yang terkenal preman di kampung, dia terpaksa diam waktu berantem sama temannya karena keterbatasan kosa kata bahasa Indonesia. Hahaha… derita bangetd tuh. Tapi di smp ini, bahasa Aceh masih sering terdengar.

To be continued ...


No comments:

Post a Comment

Post a Comment